Belajar Melepaskan yang Tak Bisa Dikendalikan

Pernahkah kita menghabiskan banyak waktu memikirkan sesuatu yang sebenarnya berada di luar kendali kita? Mengkhawatirkan pendapat orang lain, menyesali sesuatu yang sudah terjadi, atau merasa kecewa karena kenyataan tidak berjalan seperti yang direncanakan? Saya rasa, kita pernah berada di posisi itu. Sibuk memikirkan berbagai kemungkinan, berharap semuanya berjalan sesuai keinginan, sampai terkadang lupa bahwa tidak semua hal memang bisa kita kendalikan. Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang membuat Filosofi Teras karya Henry Manampiring menarik untuk dibaca.
Tentang memahami apa yang bisa kita kendalikan
Buku ini memperkenalkan filsafat Stoisisme, sebuah pemikiran yang telah berkembang sejak zaman Yunani dan Romawi kuno, dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan modern. Salah satu gagasan pentingnya adalah membedakan hal-hal yang berada dalam kendali kita dan hal-hal yang berada di luarnya. Kita mungkin tidak bisa menentukan bagaimana orang lain menilai kita, apakah semua rencana akan berjalan lancar, atau bagaimana orang lain memperlakukan kita.
Namun, kita masih memiliki ruang untuk memilih bagaimana merespons keadaan, mempertimbangkan tindakan, dan mengambil keputusan. Bagi saya, gagasan ini mengingatkan bahwa ketenangan bukan berarti hidup tanpa masalah. Ketenangan justru bisa dimulai ketika kita belajar menempatkan perhatian pada hal-hal yang memang dapat kita upayakan.
Bukan tentang tidak boleh merasa
Hal yang menarik dari pembahasan Stoisisme adalah bahwa mengelola emosi bukan berarti harus menjadi orang yang dingin, tidak pernah sedih, atau selalu terlihat kuat. Kita tetap bisa merasa kecewa, takut, marah, bahkan cemas. Perasaan itu bagian dari pengalaman manusia. Namun, kita dapat belajar memberi jeda sebelum membiarkan emosi menentukan tindakan kita.
Ada kalanya sesuatu terasa begitu menyakitkan bukan hanya karena peristiwanya, melainkan juga karena pikiran kita terus membayangkan kemungkinan terburuk, mengulang kejadian yang sama, atau menaruh terlalu banyak makna pada penilaian orang lain. Bukan berarti semua perasaan bisa dihilangkan begitu saja. Namun, kita bisa belajar mengenali apa yang sedang kita rasakan dan memilih respons yang lebih bijaksana.
Bagi saya, di sinilah gagasan dalam buku ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari: kita mungkin tidak selalu bisa memilih apa yang terjadi, tetapi kita bisa belajar menentukan bagaimana menghadapinya.
Hal yang ingin saya bawa setelah membaca
Saya melihat gagasan dalam buku ini sebagai pengingat untuk menjalani kehidupan dengan lebih sadar. Tidak semua hal harus mendapat respons dari kita. Tidak semua pendapat perlu kita buktikan salah. Dan tidak setiap rencana yang berubah berarti perjalanan kita telah gagal. Ada hal-hal yang memang perlu diperjuangkan, tetapi ada pula yang perlu diterima sebagai sesuatu yang berada di luar jangkauan kita. Membedakan keduanya tentu tidak selalu mudah. Kita masih bisa merasa kecewa atau kembali mengkhawatirkan sesuatu. Namun, setidaknya kita dapat belajar bertanya kepada diri sendiri: Apakah hal ini berada dalam kendali saya? Jika iya, apa yang bisa saya lakukan? Jika tidak, bagaimana saya dapat menyikapinya dengan lebih bijaksana?
Bagi saya, pertanyaan sederhana itu dapat menjadi awal untuk berhenti sejenak, menata pikiran, dan kembali memberikan perhatian pada apa yang benar-benar berarti. Pada akhirnya, saya ingin mengingat bahwa hidup tidak harus selalu berjalan sesuai rencana agar tetap layak dijalani.
Kita boleh memiliki harapan, menyusun tujuan, dan berusaha sebaik mungkin. Namun, kita juga perlu memberi ruang bagi kenyataan untuk hadir sebagaimana adanya. Mungkin, bertumbuh bukan hanya tentang belajar melakukan lebih banyak hal, tetapi juga tentang belajar mengetahui mana yang perlu diperjuangkan dan mana yang perlu dilepaskan. Sebab, tidak semua hal bisa kita kendalikan, tetapi kita selalu punya kesempatan untuk belajar menyikapinya dengan lebih bijaksana.
Tanggapan (0)
Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama menulis.